Wednesday, March 27, 2019

LAJUKELA COFFEE : KISAH BARISTA KECIL

Barista cilik..

Ayahku suka minum kopi, aku bisa melihatnya minum kopi setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan kadang kala suka minum kopi di kedai kopi milik pamanku. Tapi ada raut muka yang berbeda terpancar dari saat ayahku minum kopi di rumah, beda saat ayahku minum kopi di kedai pamanku. Raut muka yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kecewa saat menikmati kopi buatan ibuku.
Ayahku sukanya kopi hitam tanpa gula. Katanya minum kopi tanpa gula bisa membantu mengatasi beberapa  macam penyakit. Tapi minum kopi pakai gula putih adalah penyakit. 
Aku sering diajak ayahku main ke kedai kopi milik pamanku, Gi.  Jadi aku bisa membandingkan pancaran muka ayahku saat menikmati kopi di rumah dan di kedai kopi. Mungkin ayahku tidak mau menyakiti hari ibuku sehingga secangkir kopi yang disajikan ibuku tetap dinikmatinya dengan indah.
Namaku sueb, umurku 10 tahun dan aku ingin membuat ayahku bisa menikmati minum kopi dengan indah di rumah.
“Aku ingin belajar buat kopi sama Paman GI”, kataku dalam hati.
Paman Gi, adalah adik kandung ibuku yang paling bungsu dan membuka usaha kedai kopi di sebelah rumahku. Paman Gi adalah Barista bersertifikat dan sering  ikut lomba-lomba barista. Aku banyak piagam-piagam lomba dan certificate yang terpasang di kedai kopi miliknya.
“Assalammualaikum, Uncle Ji,” sapaku ketika sehabis sekolah, aku mampir ke kedainya.
“Waalaikum salam,” Ya” jawab paman Gi, sambal tersenyum karena heran melihat perubahan sikapku s
“ Bolehkah Uncle Gi, ajari Sueb cara buat kopi enak seperti Uncle Gi buat ke pelanggan “, kataku.
“boleh aja, mau jadi barista kee?,”kata paman Gi, sambil tersenyum.
“Iya Om” dan juga pengen buat kopi untuk ayah,”, kataku penuh semangat.
“baiklah, kalau begitu kita mulai sekarang aja yach” kata paman Gi, sembari menuju ke areal barista. Karena mungki dilihatnya pengunjung belum banyak yang datang, makanya dia mau mengajari keponakannya menyeduh kopi.
“Pertama-tama kita harus tahu Jenis Kopi, Proses Kopi, cara masak dan karakter kopi yang akan kita seduh. Untuk Jenis kopi sendiri ada 4 yaitu Arabika, Robusta, Liberika dan Excelsa. Untuk Proses dari petani kopi itu ada Semi Wash, Full Wash, Honey, Natural. Juga untuk memasak kopi ada beberapa cara, tapi cukup Sueb tahu , Light, Medium dan Dark. “, kata pamanku lagi.
“Tapi Sueb untuk hari pertama ini, cukup tahu aja dulu bagaimana cara menyeduh kopi yang enak. Jadi untuk lain-lainnya nanti diajarin di hari lain atau Sueb bisa baca-baca di buku itu”,kata paman Gi, sambil menunjuk ke tumpukan buku kopi yang ada di meja barista.
“Ini adalah alat seduh kopi dengan menggunakan alat, istilahnya manual brew. Alat manual brew itu banyak macamnya. “
“Ini namanya Aeropress, Kalita Wave, Dripper V60, French Fress,” kata paman Ji sambil menunjukkan masing-masing alat seduh yang ada di meja barista.
“itu alat seduh manual yang pakai nama Asing, kalau di Indonesia sendiri , cara seduhnya pakai metode Tubruk..”
“Letak kopi dalam cangkir, tubruk dan tuangkan air panas diatas kopi bubuk, lalu diaduk “
Panjang lebar paman Gi bercerita mengenai membuat kopi enak sambil memperagakan cara seduhnya yaitu diantara nya adalah adanya waktu jedah saat seduhan air pertama dan kedua, aturan komposisi air dan kopi, temperature kopi.
“nah sekarang Sueb praktekin cara seduh kopi
‘Tapi Om, Kenapa ayah Sueb tidak suka kopi buatan ibu?’
“Ha..ha..ha… Ayahmu itu biasa minum kopi 100% asli di kedai paman setiap malam, sedang ibumu kalau paman lihat suka membeli kopi kemasan di kedai harian Mak Bubur yang kopinya bukan 100% asli karena dicampur jagung. Jadi bukan tidak suka buatan ibumu, tapi kopinya harus di ganti. Nanti kamu ajarin ibumu cara membuat kopi tubruk atau menyeduh kopi pakai alat ini. Sueb khan sudah belajar tadi khan”, kata pamanku panjang lebar sambil menunjukkan alat V60 dengan paper dripnya.
“Ya. Paman”, jawabku sambil mengangguk.   
Pulang dari kedai paman Ji, aku langsung menuju ke dapur dan kulihat ibuku tengah memberi makan adikku yang masih balita. Setelah mengucapkan salam, aku pun membuka lemari tempat dimana biasa ibuku meletakkan kopi bubuk. Kuambil kemasan kopi bubuk tersebut dan kubaca bait demi bait.
“Oh.. pantas aja ayahku kurang menikmat kopi buatan ibuku karena kopi yang disajikan bukan 100% kopi asli” pikirku dalam hatiku.
“Wajar aja kalau ayah kurang menikmatinya”, gumanku dalam hati.
“Ibu..Ibu..Ibu..”, panggilku dengan setengah teriak sambal mengambil sebungkus kopi dari dalam tas ranselku.
“Ya , nggak usah teriak-teriak begitu sueb?”, kata ibuku sembari masih asyik memberi makan adikku dengan nada lembut.
“Ini ada kopi dari paman Gi , tadi selepas sekolah, abang main ke kedai nya dan dikasih kopi ini”
“kata paman Gi , ini kopi kesukaan ayah, Kopi Hitam Robusta” kataku.
Ibuku terlihat mendekatiku dan mengamati kopi yang aku bawa dan coba membandingkan kopi yang dia ambil dalam lemari yang biasa disajikan ke ayah
“Kata paman Gi, abang  sedang belajar cara membuat kopi enak”
“Coba tunjukkin ke ibu dong bagaimana cara buat kopi enak?”
“Semoga saja ayah bisa menikmati kopi buatan ibu dengan sempurna dan nggak perlu ke kedai paman Ji setiap malam” kata ibuku dengan berbagai pertanyaannya.
“Ehmmm..rupanya ibuku merasa juga kalau sebenarnya ayahku kurang menikmati kopi buatan ibuku. Walaupun tidak ditunjukkan dengan sikap maupun kata-kata tapi raut muka ayahku bisa terbaca dengan sempurna oleh ibuku”, gumanku dalam hati..
“Baik Bu..Abang dengan senang hati ajarin ibu buat kopi enak” kataku sambal tersenyum
“Tapi abang boleh dong minta dibuatin susu coklat yang enak itu” kataku sambal memohon.

Akhirnya Aku  mengajari ibunya cara membuat kopi yang enak dengan kopi yang diberi oleh Paman Gi dan apa yang diajarkannya. Ibu ku sangat antusias sekali mempelajari cara buat kopi yang sesuai selera ayah. Semenjak itu Ayahku sudah jarang atau hampir tak pernah lagi nongrong dan minum kopi di warung Uncle Gi.

No comments:

Post a Comment